Sabtu, 21 April 2012

SECUIL TENTANG HERMENEUTIKA

Secara etimologis, hermeneutika berasal dari bahasa Yunani “hermeneuein” yang berarti menafsirkan. Maka kata benda dari “hermeneia” secara harfiah adalah penafsiran atau interpretasi. Di dalam istilah tersebut, secara langsung terkandung unsur-unsur yaitu, mengungkapkan, menjelaskan, dan menerjemahkan. Richard Palmer menyatakan ada tiga bentuk arti dari hermeneuein yaitu hermeneuein sebagai “mengatakan”, yang merupakan signifikansi teologis hermeneutika merupakan etimologi yang berbeda yang mencatat bahwa bentuk dari herme berasal dari bahasa Latin sermo, “to say” (menyatakan), dan bahasa Latin lainnya verbum, “word” (kata). Ini kemudian diasumsikan sebagai “mengumumkan” dan “menyatakan”. Lalu hermeneuein sebagai “to explain”, interpretasi sebagai penjelasan menekankan aspek pemahaman diskursif, ia menitikberatkan pada penjelasan ketimbang dimensi interpretasi akspresif. Dan terakhir hermeneuein sebagai “to translate”, yang mempunyai dimensi “to interpret” (menafsirkan) bermakna “to translate” (menerjemahkan), yang merupakan bentuk khusus dari proses interpretatif dasar “membawa sesuatu untuk dipahami”.
Dalam pandangan klasik, hermeneutik mengingatkan kita pada apa yang ditulis Aristoteles dalam Peri Hermeneias atau De Interpretatione. Yaitu bahwa kata-kata yang kita ucapkan adalah simbol dari pengalaman mental kita, dan kata-kata yang kita tulis adalah simbol dari kata-kata yang kita ucapkan itu. Bahasa tidak boleh kita pikirkan sebagai yang mengalami perubahan. Menurut Gadamer bahasa harus kita pahami sebagai sesuatu yang memiliki ketertujuan (teleologi) di dalam dirinya. Karena kata-kata ataupun ungkapan mempunyai tujuan (telos) tersendiri atau penuh dengan maksud, demikian dikatakan Wilhelm Dilthey. Setiap kata tidak pernah tidak bermakna.
dalam bukunya Hermeneutika, teori baru mengenai interpretasi, Richard Palmer mengemukakan enam definisi modern hermeneutika:
“Pertama hermeneutika sebagai teori eksegesis Bibel yakni merujuk pada prinsip-prinsip interpretasi Bibel, dan hal tersebut memasuki penggunaan modern sebagai suatu kebutuhan yang muncul dalam buku-buku yang menginformasikan kaidah-kaidah eksegesis kitab suci (skriptur). Yang kedua hermeneutika sebagai metodelogis filogogis yang menyatakan bahwa metode interpretasi yang diaplikasikan terhadap Bibel juga dapat diaplikasikan terhadap buku yang lain, selalnjutnya yang ketiga hermeneutik sebagai ilmu pemahaman linguistik, schleiermacher punya distingsi tentang pemahaman kembali hermeneutika sebagai “ilmu” atau “seni” pemahaman, dan hermeneutik sebagai sejumlah kaidah dan berupaya membuat hermeneutika sistematis-koheren, sebagai ilmu yang mendeskripsikan konsdisi-kondisi pemahaman dalam suatu dialog. Keempat, hermeneutika sebagai fondasi metodologi bagi geisteswissenschaften yang melihat inti disiplin yang dapat melayani sebagai fondasi bagi geisteswissenschaften (yaitu, semua disiplin yang memfokuskan pada pemahamn seni, aksi, dan tulisan manusia). Kelima, hermeneutika sebagai fenomenologi dasein dan pemahaman eksistensial, dalam konteks ini tidak mengacu pada ilmu atau kaidah interpretasi teks atau pada metodologi bagi geisteswissenschaften, tetapi pada penjelasan fenomenologisnya tentang keberadaan manusia itu sendiri. Yang terakhir hermeneutika sebagai sistem interpretasi:menemukan makna vs ikonoklasme yakni sebuah interpretasi teks partikular atau kumpulan potensi tanda-tanda keberadaan yang dipandang sebagai teks” (Palmer, 2003: 38-49).
Kegiatan interpretatif adalah proses yang bersifat ‘triadik’ (mempunyai tiga segi yang paling berhubungan). Dalam proses ini terdapat pertentangan antara pikiran yang diarahkan pada objek dan pikiran penafsir itu sendiri. Orang yang melakukan interpretasi harus mengenal pesan atau kecondongan sebuah teks, lalu ia harus meresapi isi teks sehingga pada mulanya ‘yang lain’ kini menjadi ‘aku’ penafsir itu sendiri. Oleh karena itulah, dapat ia pahami bahwa mengerti secara sungguh-sungguh hanya kan dapat berkembang bila didasarkan atas pengetahuan yang benar (correct). Sesuatu arti tidak akan kita kenal jika tidak kita rekonstruksi.
Tokoh-tokoh hermeneutika
1. Dilthey
Ialah tokoh Hermenutika (juru tafsir) dalam bidang sejarah. Ia menyebutkan istilah “verstehen” atau mengerti, yang merupakan tujuan penting dalam penafsiran. Pemahaman yang mendalam tidak hanya mengetahui realitas luar, tetapi juga realitas dalam. Untuk mencapai verstehen, harus melalui experience (pengalaman), expression (ekspresi), lived experience atau objectivication (pengalaman pribadi).
Semua lingkup interpretasi mencakup pada pemahaman. Namun pemahaman itu sangat kompleks di dalam diri manusia sehingga para pemikir ulung maupun psikolog tidak pernah mampu untuk menetapkan kapan sebenarnya seseorang itu mengerti. Sebagai contoh misalnya: Kapan seseorang dinyatakan mengetahui adanya bahaya laten? Kapan saatnya seorang anak dinyatakan sudah memahami matematika? Dapatkah kita melihat tepatnya waktu seseorang menangkap arti sebuah kalimat yang diucapkan?
Untuk dapat membuat interpretasi, orang lebih dahulu harus mengerti atau memahami. Namun keadaan ‘lebih dahulu mengerti’ ini bukan didasarkan atas penentuan waktu, melainkan bersifat alamiah. Sebab, menurut kenyataannya, bila seseorang mengerti, ia sebenarnya telah melakukan interpretasi, dan juga sebaliknya. Ada kesertamertaan antara mengerti dan membuat interpretasi antara mengerti dan membuat interpretasi. Keduanya bukan dua momen dalam satu proses. Mengerti dan interpretasi menimbulkan ‘lingkaran hermeneutik’, yaitu lingkaran penafsiran yang terus menerus.
2. Schleiermacher
Ia adalah juru tafsir di bidang linguistik dan kesenian. Menurutnya, penafsiran ialah rekonstruksi historis, artinya bahwa fenomena masa lalu yang harus ditafsirkan saat ini (misalnya berita atau karya sastra) tidak dapat ditafsirkan begitu saja karena harus melalui rekonstruksi historis, yaitu rekonstruksi terhadap peristiwa masa lalu untuk masa yang kini si juru tafsir. Dengan rekonstruksi ini, akan terjadi “fusi cakrawala” yaitu fusi antara cakrawala pandangan teks masa lalu yang ditafsirkan dengan cakrawala pemikiran si juru tafsir di masa kini. Istilah yang dikemukakan Schleier ialah “anschauung”
HERMENEUTIKA DALAM SEJARAH
Sesuai dengan karakteristiknya, maka hermeneutika dalam sejarah berbeda dengan hermeneutika pada ilmu lain. Hermeneutika dalam sejarah digunakan sebagai alat analisis dalam penjelasan sejarah. Namun dalam penggunaannya, hermeneutika harus dirangkaikan dengan verstehen, yaitu mengerti/paham/ mudheng (bahasa jawa). Verstehen atau understanding ialah usaha untuk “meletakkan diri” dalam “diri yang lain”, mengerti “makna yang ada di dalam”, mengerti “subjective mind” dari pelaku sejarah. Verstehen adalah menemukan “the I” dalam “the Thou” (aku dalam engkau).
Kuntowijoyo, mengatakan bahwa penjelasan sejarah adalah hermeneutics dan verstehen (menafsirkan dan mengerti). Hal ini disebabkan penjelasan sejarah lebih daripada penjelasan sebab akibat (penjelasan kausal). Penekanan pada penjelasan kausal dan meninggalkan penjelasan yang lain berarti reduksi atas hakikat ilmu sejarah. Oleh sebab itu, ilmu tentang hermeneutika dan verstehen harus dikuasai oleh seorang peneliti sejarah untuk menciptakan hasil karya sejarah yang bisa menjadi acuan untuk peneliti selanjutnya.
Pembagian ilmu menjadi dua oleh Dilthey, yaitu Naturwissenschaften (ilmu-ilmu alam) dan Geisteswissenschaften (ilmu-ilmu kemanusiaan, humanities, human studies, cultural sciences). Menurut Dilthey, pendekatan kepafa Geisteswissenschaften ialah dengan hermeneutics. Hermeneutika ialah memahami “innercontext” dari perbuatan yang tidak dinyatakan dalam kata-kata pelaku itu sendiri.

3 komentar:

Anonim mengatakan...

mantab Ly..

FAUZI RACHMAN mengatakan...

..musim gugur yaa..hehe

FAUZI RACHMAN mengatakan...

..musim gugur yaa..hehe