Cinta,,
aku tak ingin mencintaimu dengan sederhana
Karna kau trlalu indah utk kujadikan biasa
Aku tak ingin mncintaimu dg apa adanya
karna kau trlalu luar biasa,,,
Jiwa,,
aku tak ingin mnjadikanmu raja
karna kau lebih berharga dari mereka
Sayang,,
aku ingin mencintaimu dgn sempurna
tidak sederhana,tdk pula luar biasa
tapi sempurna,,
----------------------------------------------------
My Love,,
I won't give u a plain love,,,
Because u too much precious,,
I won't love u as usual
because u'r incredible,,
My Soul,,
I won't make u like a king
cos u are more valuable,,
Sweetheart,,
I want to give u a perfect love
Not usual,not incredible,,
Just perfect....
TrY tO Be wIsE
Power is Key of Success.... Be strength and Look,,till the Way bring U to Eternity...
Jumat, 02 Desember 2011
Selasa, 12 Juli 2011
INVISIBLE SIGN FROM THE LITTLE GIRL
Seorang gadis kecil berlari-lari, sambil terengah-engah, diambilnya satu persatu “emas plastik”, meski harus berebut dengan teman sebayanya. Panas terik matahari dan rasa lelah yang luar biasa setelah seharian bersekolah, tak membuatnya malas untuk mencari sesuap nasi.
Remaja kecil itu bernama Tari, usianya 13 tahun. Ia tinggal dengan neneknya di sebuah gubuk kecil. Ayahnya meninggal sejak usianya 10 tahun, sedangkan ibunya jadi TKW ke Hongkong, yang hingga lima tahun ini, tidak pernah memberi kabar. Entahlah, sudah lama Tari melupakan ibunya, karena ia hanya berpikir tentang cara untuk mencari sesuap nasi agar ia bisa bertahan hidup bersama neneknya yang sudah uzur. Tetapi, Tari tetap tidak melupakan sekolahnya, karena ia punya mimpi untuk menjadi kaya raya, punya rumah gedung, mobil bagus, baju bagus. Ya, cita-cita Tari sangat sederhana, menjadi kaya raya, that’s simple dream.
Di sela-sela kesibukannya mencari “emas plastik”, Tari juga berkeliling kampung guna menjajakan camilan yang dibuat oleh neneknya. Kedua kegiatan ini selalu dilakukannya setiap hari tanpa keluhan. Ia selalu melepaskan senyum manisnya setiap menawarkan dagangan kepada tetangga, meski ia harus kelelahan karena ada puluhan rumah yang harus ia datangi, agar semua dagangannya laku terjual. Untuk pekerjaan ini, Tari memperoleh tambahan uang saku dari neneknya sebesar 3000, jika semua dagangannya terjual. Jika hanya separoh, Tari hanya memperoleh 1500. Uang itu digunakannnya untuk membeli keperluan pribadinya, karena sang nenek hanya bisa memberi makan. Kehidupan selama bertahun-tahun dilaluinya dengan patuh kepada sang nenek, hingga suatu peristiwa membuat hidupnya berubah drastis/ Sebuah peristiwa yang tidak selayaknya terjadi pada seorang gadis berusia 13 tahun.
Usia 13 tahun, adalah masa-masa “pubertas”, ketika seorang gadis mulai bersolek dan menebarkan pesonannya kepada lawan jenis. Begitu pula dengan tari, Ia mulai merapikan dirinya, memperbaiki penampilannya, hingga akhirnya ada seorang pemuda yang tertarik padanya. Tari yang masih “polos”, menerima cinta pemuda yang usianya terpaut 5 tahun itu, dan dimulailah sebuah cerita sedih yang seharusnya masih bisa dicegah.
Di sabtu sore, seperti remaja yang sedang kasmaran, Tari dan kekasihnya berjanji untuk bertemu dan pergi ke sebuah pantai. Tanpa menaruh rasa curiga pada kekasihnya, Tari menerima ajakan itu setelah sebelumnya berpamitan dengan neneknya, dengan sedikit berbohong bahwa kepergiannya ini bersama dengan teman-teman sekolahnya. Dan akhirnya sang nenek yang juga “polos” itu pun memperbolehkan cucu kesayangannya pergi ke pantai.
Pukul 03.00, Tari berjalan menuju tempat kekasihnya menunggu. Merekapun pergi menuju pantai dengan hati berbunga-bunga. Tiba-tiba, sang kekasih berhenti di sebuah tempat yang jauh dari keramaian, dengan berlasan “di sini saja dulu ya, kita istirahat dulu, setelah itu kita ke pantai”. Tanpa menaruh curiga, Tari hanya menganggukkan kepala.
Merekapun duduk di bawah pohon, di sebuah hutan, bercakap dan bercanda layaknya sepasang kekasih. Hingga tak terasa, malam semakin gelap/ Tiba-tiba dari kejauhan datang empat motor, yang membawa tujuh pemuda berhenti di tempatnya duduk. Awalnya, Tari merasa takut, tetapi setelah dilihatnya sang kekasih menyapa salah satu di antara mereka, ia kembali tenang. Tak lama kemudian, mereka pun ikut berkumpul dan mengobrol bersama Tari. Awalnya hanya obrolan dengan teman biasa, tetapi semua berubah ketika salah satu dari mereka mengeluarkan beberapa pil dan botol minuman keras. Tari mulai merasa tidak nyaman, apalagi ketika ia ditawari untuk mencobanya. Ditolaknya botol minuman yang disodorkan kepadanya, tetapi tiba-tiba salah satu di antara pemuda itu memegangnya dan memaksanya menenggak botol minuman. Tari terus memberontak dan mencoba berteriak, tetapi tiba-tiba kepalanya pusing. Ia hanya merasakan lemas, dan tak dapat menguasai tubuhnya, karena ada tangan-tangan yang memeganginya. Sejurus kemudian, Tari tak sadarkan diri, terakhir ia hanya merasakan sakit di alat vital dan payudaranya. Setelah itu, ia tak merasakan apapun,, hingga akhirnya ia terbangun dan melihat puluhan orang mengelilinginya.
Tari hanya berteriak dan menangis, tak seorangpun tahu apa yang telah terjadi pada gadis kecil ini, hingga kluarlah visum dokter yang menyatakan bahwa ia telah diperkosa oleh lebih dari satu orang. Tari tak bisa mengatakan apapun ketika polisi bertanya kronologi peristiwa yang dialaminya. Ia hanya bisa menangis, dan merasa ketakutan. Sang nenek pun hanya bisa menangis melihat kondisi cucunya, ia tidak mengira gadis kecilnya akan mengalami hal seperti ini. Apalagi, dokter menyatakan terjadi gangguan pada kejiwaannya. Akhirnya setlah disepakati oleh keluarga, Tari kecil akan dibawa ke sebuah RSJ untuk menyembuhkannya dari trauma.
Persoalan Tari adalah suatu invisible sign dari hancurnya negara atau bahkan dunia ini. Ya, akibat dari kesalahan orang tua yang hanya fokus terhadap pemenuhan kebutuan duniawi saja, si anak menjadi korbannya. Memang, ini bukan kesalahan langsung dari orang tua, tetapi peristiwa ini akan dapat dihindari apabila orang tua melindunginya, atau paling tidak lingkungan di sekitarnya seharusnya ikut melindunginya. Bayangkan apabila generasi muda seperti Tari atau pemuda yang "menggagahi" nya, yang saya yakin sangat banyak di negara dan dunia kita ini, menjadi penerus tongkat estafet kita, maka apakah yang akan terjadi dengan masa depan negara kita??? Naudzubillah.
Ada beberapa point yang bisa kita ambil dari persoalan ini, yaitu:
1. Grand design pola asuh orang tua yang saat ini beredar di dunia, yaitu materialisme, hedonisme, yang berarti kewajiban orang tua hanya untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan, hanya akan merusak masa depan anak, terutama masa depan moralnya. Jadi, sebaiknya setiap orang tua memiliki grand design nya sendiri dalam mendidik anak-anak mereka. Dan akan lebih baik, manakala para orang tua mencontoh Nabi Muhammad S.A.W., dalam mendidik anak-anaknya.
2. Telah menjamurnya sikap individualistis di kalangan masyarakat. Tidak hanya di kota, tetapi juga di desa (kasus Tari terjadi di sebuah desa kecamatan). Individualistis membuat tidak adanya sikap saling memiliki, saling mengayomi, dan saling menjaga, di antara anggota masyarakat. Ini merupakan akibat dari globalisasi, yang mengikis Nilai-nilai Agama dan Kultur yang telah lama hidup di masyarakat Indonesia. Dalam kasus Tari, individualistis tampak pada sikap cuek masyarakat terhadap seorang anggota masyarakatnya yang hidup tidak berkecukupan, meskipun mereka mengetahuinya.
3. Kurangnya peran pemuka agama dalam mengentaskan moral dan kemiskinan masyarakat. Saat ini, kita bisa melihat bahwa sangat sedikit ulama-ulama yang terjun langsung ke masyarakat dan ikut mengentaskan moral, apalagi mengentaskan kemiskinan. Bahkan, saat ini, ada trend da'i bayaran, yaitu da'i yang akan memberi ceramah apabila dibayar dengan tarif tertentu, yang tentu saja berjuta-juta.
4. Tentu saja, Persoalan Tari juga merupakan contoh kegagalan pemerintah dalam memimpin rakyatnya. Seharusnya, persoalan ini adalah tugas dari pemerintah daerah. Tetapi, tentu saja mereka tutup mata, karena ini dianggapnya adalah kesalahan pribadi si anak dan orang tuanya. Tetapi, jika ditelaah lebih lanjut, persoalan ini berawal dari kemiskinan yang dialami orang tua Tari, hingga akhirnya ibunya memilih jadi TKW, dan tidak memberikan perlindungan fisik dan psikis kepada anaknya. Ada sebuah kasus di masa pemerintahan Khalifah Umar Bin Khattab yang berkeliling kota untuk memeriksa kondisi rakyatnya. Ternyata, di malam itu ia mendengar tangis anak kecil, lalu diintiplah rumah itu. Maka terkejutlah Khalifah Umar ketika menyaksikan seorang ibu yang sedang memasak batu dalam periuk, sembari berusaha menenangkan anak-anaknya. Kemudian, khalifah Umar pulang dan membawakan sekarung beras kepada ibu tersebut. Inilah, contoh pemimpin sesungguhnya. Khalifah Umar menyadari bahwa sebagai pemimpin, pasti kelak ia akan dimintai pertanggungjawaban. Tapi sayang sekali, saat ini sulit sekali mencari pemimpin yang benar-benar amanah dan mencintai rakyatnya.
Sahabatku, persoalan Tari ini sebenarnya masih bisa dicegah apabila kita mengamati point-point di atas. Apabila ada kesadaran dari orang tua, lingkungan, ulama, dan pemerintah terhadap pentingnya menjaga moral dan spiritual para generasi muda. Karena, di pundak merekalah kelak tongkat estafet kita diberikan. Apalagi dalam Hadist Rasulullah SAW bersabda, ada tiga hal yang tidak akan terputus amalannya, dan salah satunya adalah anak yang shaleh dan amal jariyah.
LET'S SAVE OUR CHILDREN!!!!!
Ly
Remaja kecil itu bernama Tari, usianya 13 tahun. Ia tinggal dengan neneknya di sebuah gubuk kecil. Ayahnya meninggal sejak usianya 10 tahun, sedangkan ibunya jadi TKW ke Hongkong, yang hingga lima tahun ini, tidak pernah memberi kabar. Entahlah, sudah lama Tari melupakan ibunya, karena ia hanya berpikir tentang cara untuk mencari sesuap nasi agar ia bisa bertahan hidup bersama neneknya yang sudah uzur. Tetapi, Tari tetap tidak melupakan sekolahnya, karena ia punya mimpi untuk menjadi kaya raya, punya rumah gedung, mobil bagus, baju bagus. Ya, cita-cita Tari sangat sederhana, menjadi kaya raya, that’s simple dream.
Di sela-sela kesibukannya mencari “emas plastik”, Tari juga berkeliling kampung guna menjajakan camilan yang dibuat oleh neneknya. Kedua kegiatan ini selalu dilakukannya setiap hari tanpa keluhan. Ia selalu melepaskan senyum manisnya setiap menawarkan dagangan kepada tetangga, meski ia harus kelelahan karena ada puluhan rumah yang harus ia datangi, agar semua dagangannya laku terjual. Untuk pekerjaan ini, Tari memperoleh tambahan uang saku dari neneknya sebesar 3000, jika semua dagangannya terjual. Jika hanya separoh, Tari hanya memperoleh 1500. Uang itu digunakannnya untuk membeli keperluan pribadinya, karena sang nenek hanya bisa memberi makan. Kehidupan selama bertahun-tahun dilaluinya dengan patuh kepada sang nenek, hingga suatu peristiwa membuat hidupnya berubah drastis/ Sebuah peristiwa yang tidak selayaknya terjadi pada seorang gadis berusia 13 tahun.
Usia 13 tahun, adalah masa-masa “pubertas”, ketika seorang gadis mulai bersolek dan menebarkan pesonannya kepada lawan jenis. Begitu pula dengan tari, Ia mulai merapikan dirinya, memperbaiki penampilannya, hingga akhirnya ada seorang pemuda yang tertarik padanya. Tari yang masih “polos”, menerima cinta pemuda yang usianya terpaut 5 tahun itu, dan dimulailah sebuah cerita sedih yang seharusnya masih bisa dicegah.
Di sabtu sore, seperti remaja yang sedang kasmaran, Tari dan kekasihnya berjanji untuk bertemu dan pergi ke sebuah pantai. Tanpa menaruh rasa curiga pada kekasihnya, Tari menerima ajakan itu setelah sebelumnya berpamitan dengan neneknya, dengan sedikit berbohong bahwa kepergiannya ini bersama dengan teman-teman sekolahnya. Dan akhirnya sang nenek yang juga “polos” itu pun memperbolehkan cucu kesayangannya pergi ke pantai.
Pukul 03.00, Tari berjalan menuju tempat kekasihnya menunggu. Merekapun pergi menuju pantai dengan hati berbunga-bunga. Tiba-tiba, sang kekasih berhenti di sebuah tempat yang jauh dari keramaian, dengan berlasan “di sini saja dulu ya, kita istirahat dulu, setelah itu kita ke pantai”. Tanpa menaruh curiga, Tari hanya menganggukkan kepala.
Merekapun duduk di bawah pohon, di sebuah hutan, bercakap dan bercanda layaknya sepasang kekasih. Hingga tak terasa, malam semakin gelap/ Tiba-tiba dari kejauhan datang empat motor, yang membawa tujuh pemuda berhenti di tempatnya duduk. Awalnya, Tari merasa takut, tetapi setelah dilihatnya sang kekasih menyapa salah satu di antara mereka, ia kembali tenang. Tak lama kemudian, mereka pun ikut berkumpul dan mengobrol bersama Tari. Awalnya hanya obrolan dengan teman biasa, tetapi semua berubah ketika salah satu dari mereka mengeluarkan beberapa pil dan botol minuman keras. Tari mulai merasa tidak nyaman, apalagi ketika ia ditawari untuk mencobanya. Ditolaknya botol minuman yang disodorkan kepadanya, tetapi tiba-tiba salah satu di antara pemuda itu memegangnya dan memaksanya menenggak botol minuman. Tari terus memberontak dan mencoba berteriak, tetapi tiba-tiba kepalanya pusing. Ia hanya merasakan lemas, dan tak dapat menguasai tubuhnya, karena ada tangan-tangan yang memeganginya. Sejurus kemudian, Tari tak sadarkan diri, terakhir ia hanya merasakan sakit di alat vital dan payudaranya. Setelah itu, ia tak merasakan apapun,, hingga akhirnya ia terbangun dan melihat puluhan orang mengelilinginya.
Tari hanya berteriak dan menangis, tak seorangpun tahu apa yang telah terjadi pada gadis kecil ini, hingga kluarlah visum dokter yang menyatakan bahwa ia telah diperkosa oleh lebih dari satu orang. Tari tak bisa mengatakan apapun ketika polisi bertanya kronologi peristiwa yang dialaminya. Ia hanya bisa menangis, dan merasa ketakutan. Sang nenek pun hanya bisa menangis melihat kondisi cucunya, ia tidak mengira gadis kecilnya akan mengalami hal seperti ini. Apalagi, dokter menyatakan terjadi gangguan pada kejiwaannya. Akhirnya setlah disepakati oleh keluarga, Tari kecil akan dibawa ke sebuah RSJ untuk menyembuhkannya dari trauma.
Persoalan Tari adalah suatu invisible sign dari hancurnya negara atau bahkan dunia ini. Ya, akibat dari kesalahan orang tua yang hanya fokus terhadap pemenuhan kebutuan duniawi saja, si anak menjadi korbannya. Memang, ini bukan kesalahan langsung dari orang tua, tetapi peristiwa ini akan dapat dihindari apabila orang tua melindunginya, atau paling tidak lingkungan di sekitarnya seharusnya ikut melindunginya. Bayangkan apabila generasi muda seperti Tari atau pemuda yang "menggagahi" nya, yang saya yakin sangat banyak di negara dan dunia kita ini, menjadi penerus tongkat estafet kita, maka apakah yang akan terjadi dengan masa depan negara kita??? Naudzubillah.
Ada beberapa point yang bisa kita ambil dari persoalan ini, yaitu:
1. Grand design pola asuh orang tua yang saat ini beredar di dunia, yaitu materialisme, hedonisme, yang berarti kewajiban orang tua hanya untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan, hanya akan merusak masa depan anak, terutama masa depan moralnya. Jadi, sebaiknya setiap orang tua memiliki grand design nya sendiri dalam mendidik anak-anak mereka. Dan akan lebih baik, manakala para orang tua mencontoh Nabi Muhammad S.A.W., dalam mendidik anak-anaknya.
2. Telah menjamurnya sikap individualistis di kalangan masyarakat. Tidak hanya di kota, tetapi juga di desa (kasus Tari terjadi di sebuah desa kecamatan). Individualistis membuat tidak adanya sikap saling memiliki, saling mengayomi, dan saling menjaga, di antara anggota masyarakat. Ini merupakan akibat dari globalisasi, yang mengikis Nilai-nilai Agama dan Kultur yang telah lama hidup di masyarakat Indonesia. Dalam kasus Tari, individualistis tampak pada sikap cuek masyarakat terhadap seorang anggota masyarakatnya yang hidup tidak berkecukupan, meskipun mereka mengetahuinya.
3. Kurangnya peran pemuka agama dalam mengentaskan moral dan kemiskinan masyarakat. Saat ini, kita bisa melihat bahwa sangat sedikit ulama-ulama yang terjun langsung ke masyarakat dan ikut mengentaskan moral, apalagi mengentaskan kemiskinan. Bahkan, saat ini, ada trend da'i bayaran, yaitu da'i yang akan memberi ceramah apabila dibayar dengan tarif tertentu, yang tentu saja berjuta-juta.
4. Tentu saja, Persoalan Tari juga merupakan contoh kegagalan pemerintah dalam memimpin rakyatnya. Seharusnya, persoalan ini adalah tugas dari pemerintah daerah. Tetapi, tentu saja mereka tutup mata, karena ini dianggapnya adalah kesalahan pribadi si anak dan orang tuanya. Tetapi, jika ditelaah lebih lanjut, persoalan ini berawal dari kemiskinan yang dialami orang tua Tari, hingga akhirnya ibunya memilih jadi TKW, dan tidak memberikan perlindungan fisik dan psikis kepada anaknya. Ada sebuah kasus di masa pemerintahan Khalifah Umar Bin Khattab yang berkeliling kota untuk memeriksa kondisi rakyatnya. Ternyata, di malam itu ia mendengar tangis anak kecil, lalu diintiplah rumah itu. Maka terkejutlah Khalifah Umar ketika menyaksikan seorang ibu yang sedang memasak batu dalam periuk, sembari berusaha menenangkan anak-anaknya. Kemudian, khalifah Umar pulang dan membawakan sekarung beras kepada ibu tersebut. Inilah, contoh pemimpin sesungguhnya. Khalifah Umar menyadari bahwa sebagai pemimpin, pasti kelak ia akan dimintai pertanggungjawaban. Tapi sayang sekali, saat ini sulit sekali mencari pemimpin yang benar-benar amanah dan mencintai rakyatnya.
Sahabatku, persoalan Tari ini sebenarnya masih bisa dicegah apabila kita mengamati point-point di atas. Apabila ada kesadaran dari orang tua, lingkungan, ulama, dan pemerintah terhadap pentingnya menjaga moral dan spiritual para generasi muda. Karena, di pundak merekalah kelak tongkat estafet kita diberikan. Apalagi dalam Hadist Rasulullah SAW bersabda, ada tiga hal yang tidak akan terputus amalannya, dan salah satunya adalah anak yang shaleh dan amal jariyah.
LET'S SAVE OUR CHILDREN!!!!!
Minggu, 12 Juni 2011
"Special for my Beloved"
Malam itu, aku menatap matanya,,
Aku merasakan kesedihannya,,
aku merasakan kesakitannya,,
Hingga seakan jantungku berhenti berdetak,,
Malam itu, kukatakan padanya “sabar ya,Insya Allah ini adalah yang terbaik”
Batinku semakin sesak,,ketika ia masih bercanda dan tersenyum,,
Meski aku tahu, perasaannya pasti lebih hancur dari perasaanku,,
Tapi,,ia begitu kuat,,
Kurasakan kekuatannya di hatiku,,
Saat ini, aku tak tahu apa yang dipikirkan, dirasakannya..
Namun yg pasti,,
Sejak malam itu, aku semakin merasakan kasih sayangku kepadanya
Malam itu pula, aku semakin merasakan kasih sayangnya kepadaku,,
Thank u for everything n I love u so much..
Sidareja, 14/06/2010
Ly
Aku merasakan kesedihannya,,
aku merasakan kesakitannya,,
Hingga seakan jantungku berhenti berdetak,,
Malam itu, kukatakan padanya “sabar ya,Insya Allah ini adalah yang terbaik”
Batinku semakin sesak,,ketika ia masih bercanda dan tersenyum,,
Meski aku tahu, perasaannya pasti lebih hancur dari perasaanku,,
Tapi,,ia begitu kuat,,
Kurasakan kekuatannya di hatiku,,
Saat ini, aku tak tahu apa yang dipikirkan, dirasakannya..
Namun yg pasti,,
Sejak malam itu, aku semakin merasakan kasih sayangku kepadanya
Malam itu pula, aku semakin merasakan kasih sayangnya kepadaku,,
Thank u for everything n I love u so much..
Sidareja, 14/06/2010
Ly
LELAKIKU,,,CINTAKU????
Cinta,,kata yang bisa membuat orang tertawa, menangis, bahagia, sedih, bahkan gila. Bisa kupastikan, setiap orang yang memilikinya pasti bersedia melakukan apapun demi melanggengkan rasa itu dalam hatinya. Kalau orang tua selalu bilang bahwa cinta itu seperti candu, ia akan berbahaya ketika kita berlebihan menggunakannya. Bedanya cinta dan candu adalah cinta bisa membuat orang jadi pencandu, tapi candu tidak bisa membuat orang mencinta.
Cinta, bagiku adalah sebuah kata tanpa arti. Aku sudah tak ingin lagi berurusan dengan cinta, sebelum aku benar-benar mengerti apa itu cinta. Bagiku cinta hanya seperti daun kering yang terbang kesana kemari tanpa tahu arah tujuan, dimana angin berhenti, di sanalah cinta bertaut. Aku belum percaya cinta sejati, karena mungkin belum pernah kutemukan. Lalu apakah itu cinta??mengapa ia bisa sekuat itu membuat orang kuat menjadi lemah, dan sebaliknya?? Mengapa ia bisa mengubah orang alim menjadi bajingan?? Mengapa ia bissa membuat wanita perawan menjadi binal??? Entahlah, semua itu berputar-putar di otakku hingga aku sampai di tempat tujuanku, sebuah warung kopi kecil di dekat alun-alun.
Aku duduk di pojok belakang, beberapa orang tampak bercengkrama dengan pasangannya. Aku terpaku melihatnya, teringat beberapa tahun lalu ketika masih mempercayai kekuatan cinta. Saat remajaku bersama dengan cinta pertamaku, lelakiku. Ya, meski aku telah tahu lelakiku memiliki wanita lain dan telah bercinta dengannya, aku masih tetap mempertahankannya. Lelakiku datang padaku dengan kebaikan dan kesopanannya, hingga aku terpana pada sosoknya. Dia membimbingku menjadi wanita tulen, karenanya aku semakin memperhatikan penampilanku, mulai dari atas hingga bawah tubuhku. Diajaknya aku untuk mengenal baju-baju yang modis, trendi, dan cewek banget, yang sebelumnya aku enggan mengenakannya. Saat itu, aku berpikir dialah pangeranku, mentalnya yang gentleman, ditambah dengan fisik yang mendukung, membuatku tergila-gila padanya.
Lelakiku, membuatku percaya padanya. Dia menjadi laki-laki pertama yang menyentuh hatiku. Belaian lembut tangannya dan bisikannya di telingaku, serta helaan nafasnya masih terngiang jelas di telingaku. Lelakiku yang menjadikanku dewasa, mengenalkan cara menjalin hubungan pria dan wanita. Hingga aku berpikir dialah sosok yang akan menjadi pendampingku.
Semuanya begitu indah, hingga aku enggan melepasnya dan berpikir tak bisa hidup tanpa dirinya. Aku sangat menikmati saat bersamanya, kucintai lelakiku dengan seluruh jiwa ragaku, hingga aku melupakan Tuhan dan orang tuaku. Kesadaranku hilang jika bersamanya, aku melupakan semuanya, rasa maluku dan gengsiku. Bersama lelakiku, membuat semua orang di dunia lenyap.
Aku tak berpikir untuk mengkhianati lelakiku, semua lelaki yang mendekatiku tak pernah kuberikan kesempatan untuk bertindak lebih jauh padaku. Aku hanya ingin bersama lelakiku, karena aku menikmati bersamanya. Aku mencintainya sepenuh hati, menjalani kehidupan dengannya adalah tujuan dan impianku.
Namun, cinta yang kuberikan pada lelakiku tidak pernah diberikannya padaku. Perselingkuhannya kubongkar, hingga baru kupahami bahwa ia tidak menganggap serius hubungan yang kami jalani, meski semuanya telah berjalan dan terjadi. Ia tidak merasakan besarnya cintaku, meski selalu kubuktikan betapa besar cintaku padanya. Entah makhluk apa dia, hingga memperlakukanku sebagai “wanita cadangan”. Saat itu usiaku 23 tahun, dan bodohnya aku, masih kupertahankan cintaku padanya. Masih kuharapkan tangannya memegang kembali tanganku dan kata-kata cintanya yang selalu membuatku lemah.
Berbulan-bulan aku memikirkannya, mengharapkan cintanya datang, meski aku tahu bahwa semua yang kupikirkan bukanlah cinta, tapi nafsu dan ambisi. Entahlah, tapi saat ini belum ada satu pun lelaki yang bisa mengambil hatiku. Tidak seperti lelakiku, yang sangat pandai mengambil hatiku, menurutku mereka hanya menggangguku. Karena itulah aku berpikir, apakah aku jadi salah satu korban lelaki yang tidak menyadari kesalahannya??? Apakah aku benar-benar mencintainya hingga aku kehilangan hatiku untuk lelaki lain?? Ataukah aku hanya tidak berani menemukan kembali cintaku pada lelaki lain karena takut disakiti kembali?? Entahlah......
Aku melihat secangkir kopi di depanku yang menanti bibirku menyeruputnya. Kulihat jendela, masih kunanti kedatangan seseorang,,,,lelakiku.....
Yogya, 11 Juni 2011
Ly
Cinta, bagiku adalah sebuah kata tanpa arti. Aku sudah tak ingin lagi berurusan dengan cinta, sebelum aku benar-benar mengerti apa itu cinta. Bagiku cinta hanya seperti daun kering yang terbang kesana kemari tanpa tahu arah tujuan, dimana angin berhenti, di sanalah cinta bertaut. Aku belum percaya cinta sejati, karena mungkin belum pernah kutemukan. Lalu apakah itu cinta??mengapa ia bisa sekuat itu membuat orang kuat menjadi lemah, dan sebaliknya?? Mengapa ia bisa mengubah orang alim menjadi bajingan?? Mengapa ia bissa membuat wanita perawan menjadi binal??? Entahlah, semua itu berputar-putar di otakku hingga aku sampai di tempat tujuanku, sebuah warung kopi kecil di dekat alun-alun.
Aku duduk di pojok belakang, beberapa orang tampak bercengkrama dengan pasangannya. Aku terpaku melihatnya, teringat beberapa tahun lalu ketika masih mempercayai kekuatan cinta. Saat remajaku bersama dengan cinta pertamaku, lelakiku. Ya, meski aku telah tahu lelakiku memiliki wanita lain dan telah bercinta dengannya, aku masih tetap mempertahankannya. Lelakiku datang padaku dengan kebaikan dan kesopanannya, hingga aku terpana pada sosoknya. Dia membimbingku menjadi wanita tulen, karenanya aku semakin memperhatikan penampilanku, mulai dari atas hingga bawah tubuhku. Diajaknya aku untuk mengenal baju-baju yang modis, trendi, dan cewek banget, yang sebelumnya aku enggan mengenakannya. Saat itu, aku berpikir dialah pangeranku, mentalnya yang gentleman, ditambah dengan fisik yang mendukung, membuatku tergila-gila padanya.
Lelakiku, membuatku percaya padanya. Dia menjadi laki-laki pertama yang menyentuh hatiku. Belaian lembut tangannya dan bisikannya di telingaku, serta helaan nafasnya masih terngiang jelas di telingaku. Lelakiku yang menjadikanku dewasa, mengenalkan cara menjalin hubungan pria dan wanita. Hingga aku berpikir dialah sosok yang akan menjadi pendampingku.
Semuanya begitu indah, hingga aku enggan melepasnya dan berpikir tak bisa hidup tanpa dirinya. Aku sangat menikmati saat bersamanya, kucintai lelakiku dengan seluruh jiwa ragaku, hingga aku melupakan Tuhan dan orang tuaku. Kesadaranku hilang jika bersamanya, aku melupakan semuanya, rasa maluku dan gengsiku. Bersama lelakiku, membuat semua orang di dunia lenyap.
Aku tak berpikir untuk mengkhianati lelakiku, semua lelaki yang mendekatiku tak pernah kuberikan kesempatan untuk bertindak lebih jauh padaku. Aku hanya ingin bersama lelakiku, karena aku menikmati bersamanya. Aku mencintainya sepenuh hati, menjalani kehidupan dengannya adalah tujuan dan impianku.
Namun, cinta yang kuberikan pada lelakiku tidak pernah diberikannya padaku. Perselingkuhannya kubongkar, hingga baru kupahami bahwa ia tidak menganggap serius hubungan yang kami jalani, meski semuanya telah berjalan dan terjadi. Ia tidak merasakan besarnya cintaku, meski selalu kubuktikan betapa besar cintaku padanya. Entah makhluk apa dia, hingga memperlakukanku sebagai “wanita cadangan”. Saat itu usiaku 23 tahun, dan bodohnya aku, masih kupertahankan cintaku padanya. Masih kuharapkan tangannya memegang kembali tanganku dan kata-kata cintanya yang selalu membuatku lemah.
Berbulan-bulan aku memikirkannya, mengharapkan cintanya datang, meski aku tahu bahwa semua yang kupikirkan bukanlah cinta, tapi nafsu dan ambisi. Entahlah, tapi saat ini belum ada satu pun lelaki yang bisa mengambil hatiku. Tidak seperti lelakiku, yang sangat pandai mengambil hatiku, menurutku mereka hanya menggangguku. Karena itulah aku berpikir, apakah aku jadi salah satu korban lelaki yang tidak menyadari kesalahannya??? Apakah aku benar-benar mencintainya hingga aku kehilangan hatiku untuk lelaki lain?? Ataukah aku hanya tidak berani menemukan kembali cintaku pada lelaki lain karena takut disakiti kembali?? Entahlah......
Aku melihat secangkir kopi di depanku yang menanti bibirku menyeruputnya. Kulihat jendela, masih kunanti kedatangan seseorang,,,,lelakiku.....
Yogya, 11 Juni 2011
Ly
Minggu, 13 Februari 2011
Sedikit tentang Syekh Siti Jenar...
Manunggaling kawulo-gusti,,ne bukanlah kata asing buat kita. Syekh Siti Jenar telah memperkenalkannya, sebagai konsep bahwa Tuhan ada di dalam dirinya. Ada banyak tafsir mengenai konsep ini, Syekh adl seorang sufi yg memiliki banyak makna di dalam stiap perkataannya. Pada tafsir pertma, dikatakan bahwa Syekh menganggap dirinya Tuhan. Tafsir inilah yang kemudian digadang-gadang sbg penyebab syekh dihukum mati oleh dewan wali lainnya.
Tafsir kedua, dikatakan bahwa maksud manunggaling kawulo-gusti adl bahwa kawulo = rakyat, dan gusti = raja. Jadi, maksudnya syekh adl bahwa raja dan rakyat itu sama jenisnya, yaitu manusia. Karena itu, seorang raja tdk boleh berkehendak sewenang-wenang pada rakyat. Beberapa sejarawan menduga bahwa konsep "sosialis" ala syekh ini yg membuatnya dipenggal. Ada nuansa politis dalam hukuman mati syekh.
Tafsir ketiga, manunggaling adl bahwa Tuhan ada di diri setiap manusia,sangat dekat. Jika tafsir ini benar, maka syekh ada orang yg benar, karena dlm Al Qur'an sendiri dikatakan bahwa ALlah itu sangat dekat, bahkan lebih dekat dr nyawa kita.
Ya, entahlah ada banyak tafsir mengenai konsep ini. Sejatinya, kita harus berpatokan pd Qur'an n Hadits sebelum kita menilai sesat-tidaknya orang/kelompok tersebut. Syekh SIti Jenar adl salah satu tokoh yang tenggelam dalam ketidakpastian. Hingga sekarang, kebenaran tentangnya masih tersamar.
"Janganlah kita merasa diri kita lebih baik dari orang lain,,karena barangkali orang itu lebih baik dari kita"
Tafsir kedua, dikatakan bahwa maksud manunggaling kawulo-gusti adl bahwa kawulo = rakyat, dan gusti = raja. Jadi, maksudnya syekh adl bahwa raja dan rakyat itu sama jenisnya, yaitu manusia. Karena itu, seorang raja tdk boleh berkehendak sewenang-wenang pada rakyat. Beberapa sejarawan menduga bahwa konsep "sosialis" ala syekh ini yg membuatnya dipenggal. Ada nuansa politis dalam hukuman mati syekh.
Tafsir ketiga, manunggaling adl bahwa Tuhan ada di diri setiap manusia,sangat dekat. Jika tafsir ini benar, maka syekh ada orang yg benar, karena dlm Al Qur'an sendiri dikatakan bahwa ALlah itu sangat dekat, bahkan lebih dekat dr nyawa kita.
Ya, entahlah ada banyak tafsir mengenai konsep ini. Sejatinya, kita harus berpatokan pd Qur'an n Hadits sebelum kita menilai sesat-tidaknya orang/kelompok tersebut. Syekh SIti Jenar adl salah satu tokoh yang tenggelam dalam ketidakpastian. Hingga sekarang, kebenaran tentangnya masih tersamar.
"Janganlah kita merasa diri kita lebih baik dari orang lain,,karena barangkali orang itu lebih baik dari kita"
Langgan:
Entri (Atom)