Senin, 24 Januari 2011

Selamat Jalan Bapak.....

17 Januari 2011
Aku duduk di ruang tengah rumahku, berjalan mondar-mandir melayani tamu yang datang silih berganti. Meski hujan deras menyelimuti kampung kami, masih banyak tetangga dan kerabat yang datang. Sembari menghidangkan jamuan, kutengok kamar tengah, berharap masih ada sosok yang tertidur di sana. Namun sayangnya tak kulihat seorangpun di dalam kamar. Kekecewaan menderaku, kesedihan menyelimutiku, aku ingin menangis, tapi air mata tak jatuh satu tetespun, hingga kurasakan sakit yang sangat di dadaku.
16 Januari 2011
Ba'da maghrib, belum selesai kubaca surat Ar Rahmaan, kulihat bapak menggigil kedinginan, beliau meminta jaket tebal. Kuambilkan jaket tebal, tapi beliau masih tetap menggigil. Kekhawatiranku bertambah manakala diketahui suhu bapak tinggi, tapi beliau malah kedinginan. Suasana di rumah benar-benar mengerikan, ibu terus menuntun bapak dengan dzikir, kalimat syahadat, Kakak keduaku mencari oksigen, karena bapak mengeluh sesak, sedangkan aku dan adikku mencari cara agar bapak merasa hangat. Saat itu, takut dan tangis menyertai setiap aktivitas yang kami lakukan. Namun ketakutan itu sempat terhenti, manakala ketika mendekati adzan Isya bapak merasa sehat kembabali. Beliau pun meminta untuk sholat Isya, dengan perasaan lega, kami bergegas meninggalkan beliau untuk menuntaskan kewajibannya kepada sang Khalik.
Ba'da Isya, bapak kembali merasakan dingin dan sesak. Saat itu kami hanya berdoa dan meminta yang terbaik utk bapak. Kubacakan surat Yassin, Ibu kembali menuntun bapak untuk beristghfar. Alhamdulillah, tidak lama kakakku datang dengan membawa tabung oksigen. Akhirnya, bapak kembali bernapas dengan bantuan oksigen.

Pukul 21.00, sesak bapak tidak mereda, padahal gas di dalam tabung oksigen sudah mulai habis. Kami mencari isi ulang oksigen, tapi tidak menemukan. Kemudian atas keputusan bersama, bapak kami bawa ke Puskesmas. Pukul 10.00, bapak dibawa puskesmas dan beliau kembali dibantu dengan tabung oksigen. Karena peralatan puskesmas yang tidak memadai, bapak dirujuk ke RS Kota yang berjarak lebih dari 50 km. Pukul 23.00, dengan ambulance, aku, ibu, dan pakde menemani bapak. Sebelum masuk ke ambulance, bapak sempat berbicara utk meminta agar posisi tidur beliau dipindah menghadap ke depan.
Sepanjang jalan, kulihat bapak tidur pulas sekali. Melihatnya, aku pun turut tertidur. DI tengah jalan, bapak bangun dan minta untuk minum. Kuambilkan sebotol Aqua kecil untuk bapak. Saat itu, bapak minum banyak, seperempat botol, dan beliau sempat berkata "Kok aku ngombe akeh banget, berarti aku arep mari ya?" (Kok aku minum banyak sekali, berarti aku akan sembuh). Ibu pun menjawab "Iya pak, bapak arep mari" (Iya, bapak akan sembuh). Bapak kembali tidur.
Pukul 00.30, kami sampai di RS, kemudian bapak dimasukkan ke IGD. Di dalam IGD, aku berdua bersama bapak. Beliau kembali menggigil, sambil menahan tangis, kutuntun bapak "Astaghfirullahhal 'adzim...Astaghfirullahhal'adzim...". Suara bapak perlahan, mengikutiku. beberapa menit kemudian kudengar beliau minta buang air kecil, kupanggil ibu, sedangkan aku akan mengurus administrasi dan obat untuk bapak.
Sekitar pukul 00.45, bapak dibawa ke zal yang telah dipesan oleh kakak pertamaku. Sepanjang jalan menuju zal, kulihat bapak tidur miring, tapi beliau masih sempat berbicara kepada ibu untuk mempersiapkan ASKES. Mendengar itu, ibu menangis, aku pun dmeikian. Pikirku saat itu, Bapakku meski sakit, beliau tetap tidak ingin merepotkan siapapun.
Tiba di zal, ibu duduk di luar kamar dengan pakde, sedangkan aku masuk ke dalam kamar untuk memasukkan tas. Saat itu, kulihat wajah bapak merah, mata beliau menatap ke atas, dan kudengar nafasnya tersengal. Aku masih bingung, dan aku baru tersadar ketika perawat memberikan pernafasan bantuan kepada bapak, dan memukul pipi bapak.
"Masya ALlah Bapak...." ucapku saat itu. Aku berlari mendekati wajah bapak, kulantunkan kalimat syahadat, kucoba sekuat mungkin berteriak agar bapak bangun. Tapi aku benar-benar tidak bisa, aku menjerit, dan perawat memintaku untuk tidak melakukan seperti itu di depan bapak. Mungkin karena aku menjerit, ibu masuk dan beliau mendekati bapak. Dengan tabah dan perlahan, ibu menuntun bapak, "Allah...Allah...Allah...", dan aku hanya menangis, kututup wajahku, aku benar-benar tak kuat melihat ini.
17 Januari 2011, pukul 01.05, dokter tidak bisa berbuat apapun, Allah telah memanggil bapak di usianya ke 63 tahun. Ibu menjerit, kupeluk ibu dan kami menangis bersama. Pakde masuk, setelah melihat bapak, beliau kembali keluar.
Bapak,,,beliau akhirnya kembali berpulang kepada pemiliknya, lebih cepat dari apa yang dokter perkirakan..
Bapak meninggal karena sesak yang dideritanya akibat penumpukan cairan. Selama sakitnya, beliau telah mengajarkan banyak hal kepada kami,,
Selamat Jalan Bapak......Kami selalu mencintaimu..

Senin, 03 Januari 2011

Awas,,,,...Negara Sampah!!!!!

Mendengar istilah tempat sampah, yg terbersit adl kotor,bau,dan berisi barang2 yg ga berguna, tua, atapun rusak. Kalaupun dimanfaatkan, maka yg mau menjajaki tempat kotor itu pun hanya orang2 tertentu saja, yg tdk mampu membeli barang2 baru saja. Lalu kemudian apakah tempat sampah intelektual itu? Ia adl semacam istilah utk menggambarkan suatu tempat untuk membuang barang2 intelektual yg sdh dianggap aus oleh negara asal tetapi sayang utk dibuang,karena masih bisa dimanfaatkan, terutama oleh negara yg dianggap tdk mampu memproduksi/membeli produk baru.
Lalu, spt apakah negara yg njd tempat sampah?? APakah negara itu akan berbau busuk, kotor, dan jorok spt tempat sampah yg qt pikirkan?? Jawabnya adl ya, tapi bedanya busuk, kotor, dan joroknya negara is unreal condition. Jadi bukanlah satu hal yg tampak dilihat oleh mata dan bau dirasakan oleh hidung, melainkan tampak dan baunya hanya dirasakan oleh hati, perasaan atau soul.
Saat ini, sangat banyak negara yg menjadi ataupun dijadikan sbg tempat sampah bagi produk suatu negara maju, baik itu produk fisik (barang2) maupun non fisik (pemikiran). Kita bisa saksikan dgn mata telanjang, betapa banyaknya barang2 dr luar negeri yg dijual di suatu negara dgn harga yg murah, tanpa kita pahami bahwa benda tsb sebenarnya "dibuang" oleh pemerintah dari negara asal karena dianggap membahayakan dan mengandung zat kimia berbahaya bagi manusia. Alih-alih turut membuangnya karena mengetahui dampak negatifnya bagi kesehatan, negara sampah tsb malah memfasilitasi distributor barang2 tsb utk masuk dan memperjualbelikan barang2 ke rakyatnya. Mirisnya, barang2 menjijikan seperti (maaf) kondom bekas, yg seharusnya dimusnahkan karena bisa saja ia mengandung virus berbahaya, malah diekspor ke negara-negara bodoh utk didaur ulang menjadi benda lain yg (Dianggap lebih bermanfaat) misalnya, ikat rambut, dsb. Padahal, dilihat secara moral, agama, medis, atau dari sdt pandang lain pun tidak layak barang2 spt itu dipakai kembali. Parahnya lg tdk dituliskan bahwa itu adl daur ulang kondom, shg scr langsung dan tampak benar2 melakukan kebohongan publik.
Selanjutnya adl produk non fisik yg berupa pemikiran. Saat ini, trend yg sedang berkembang di negara-negara yang menganggap dirinya maju adl mereka rdk akan berhenti "memperadabkan negara miskin". Caranya adl memasukkan pemikiran2 yg sebisa mungkin bertentangan dgn pemikiran yg berkembang di negara miskin tsb. Cara tsb berhasil dgn dominansi ekonomi, yg kemudian memaksa negara2 miskin tsb menuruti kemauannya. Alhasil, negara yg dianggap miskin tsb menjadi negara sampah yg hanya menerima pemikiran2 tanpa melakukan kritik terlebih dulu. Misalnya, dalam bidang pendidikan, di negara2 tertentu diadaptasi pemikiran2 pendidikan dari negara maju yg kemudian diterapkan. Sebenarnya tidaklah buruk, tetapi yg menjadi mslh adl ketika kita hanya mengadaptasi pemikiran tanpa keinginan utk melakukan pembaharuan dan penelitian spt di negara asing, dan sayangnya itulah yg sering terjadi.
Produk sampah yg fisik maupun non fisik, semuanya menjadi perusak generasi muda. Kita dibuat instan dengan semua yg diimpor dr Barat. Pdhl orang Barat sendiri tdk suka dengan barang tsb yg membuat orang malas. Yah, mungkin inilah yg menyebabkan mental rakyat negara2 tsb mjd mental sampah, dan maunya dibuang serta dijadikan pelayan terus, tanpa ada keinginan utk mjd pelopor dan pembuat produk. Seperti yg dikatakan oleh seornag dokter dlm bukunya :TUBUH ANDA ADL DOKTER YG SEHAT, yaitu U are what u eat...kamu adl apa yg kamu makan. Saya analogikan makan disini tdk hanya memasukkan sesuatu ke mulut, tapi makan secara universal, yatu makan pemikiran pula.
Melihat fenomena demikian, kita bisa menganalisis sendiri apa yg membuat n apa yg akan trjd thd "negara sampah" tsb. Bisakah ia eksis??? Jawabnya adl bisa, tapi tetap akan mjd negara boneka eksis yg hanya diatur2 oleh negara yg berkepentingan. Wallahuallam..